Tim Investigasi Temukan Nama-nama Nasabah Fiktif di Bank Century Medan

Tim Investigasi Pansus Century di Medan yang diketuai DR Benny K Harman SH dalam dengar pendapat dengan pihak Bank Century(kini Bank Mutiara) menemukan adanya berbagai kejanggalan yakni adanya nama-nama nasabah fiktif yang tidak terdeteksi pada komputer bank tersebut.
Dialog yang berlangsung sekitar 2 jam yakni jam 13.30 hingga pukul 15.30 WIB di Kantor Bank Century Jalan Putri Hijau, Jumat itu terungkap nama-nama fiktif antara lain PT Garuda Sarana Graha yang melakukan transaksi hingga 25 kali, PT Jusin Indonesia 18 kali, Charli 7 kali, MAS 8 kali. Kemudian Franseda, Ramli dan masih ada nama lain lagi. Akibatnya Bank Century ini mengalami kerugian.
Hal tersebut diakui Branch Manager Bank Century Medan Putri Hijau Suryo Purnomo kepada Tim Pansus terdiri dari Benny K Harman, Hendrawan Supratikno, Chairuman Harahap, Fahri Hamzah, Asman Abnur dengan pendamping Mudzakkir SH, Dian Cahyo.

Nasabah fiktif yakni MAS melakukan transaksi melalui Bank Century Medan ke BNI Pusat Pekanbaru. Ada transaksi melalui Bank Danamon, Bank Kesawan. Umumnya transaksi tersebut dalam jumlah cukup besar. Baik Tim Pansus maupun pihak Bank Century tidak mengungkapkan berapa total transaksi yang dilakukan para nasabah fiktif serta kerugian Bank Century.
Begitu juga mengenai data dana pihak ketiga (DPK), kredit disalurkan Bank Century yang diungkapkan Suryo Purnomo maupun data yang dimilik Tim Pansus berbeda. Namun kata Suryo Kantor Bank Century di Medan ada dua, selain Kantor Cabang Medan Putri Hijau serta Kantor Cabang Pembantu Jalan Asia. Tetapi dalam operasional berbeda.
Dalam dengar pendapat itu hadir sejumlah nasabah Bank Century. Mereka ada yang dipanggil melalui surat, ada yang datang sendiri. Namun mereka sepenuhnya berharap Tim Pansus dapat turut menyelesaikan kasus ini. ”Kami ingin uang dikembalikan,” ujar seorang nasabah.
Ketika ditanya Tim kepada Suryo Purnomo adanya penjualan reksadana Antarboga dalam kasus Bank Century ini, dia mengatakan, penjualan ini resmi semua ini berdasarkan instruksi pihak Manajemen Bank Century Pusat. “Jadi kami hanya menjalankannya, imbuh Suryo sambil menyebutkan nasabah Bank Century terdiri dari perorangan, perkebunan, jasa dan rental.
Apakah Bank Indonesia Medan tidak pernah memeriksa dan kalau diperiksa apakah anda laporkan adanya penjualan ini, Suryo mengatakan, pemeriksaan tetap dilakukan BI tapi dia tidak melaporkan adanya penjualan reksadana tersebut.
Katanya, BI datang untuk menghentikan kegiatan 13 Nopember 2008 dan terjadi stop kliring, pada saat itu terjadi penarikan secara besar-besaran. Kemudian masalah ini diambil alih oleh LPS.
Suryo Purnomo yang bekerja sejak 1985 di perbankan itu mengatakan kenal dengan Robert Tantular.
Sejumlah nasabah mengatakan bahwa mereka menerima informasi dari Bank Century penjualan reksadana Antarboga pemiliknya adalah Bank Century. Mereka percaya sebab kantor sekuritas tersebut tidak ada, makanya mereka yakin. Selain itu Suryo Purnomo pernah mengatakan kepada nasabah bahwa penjualan reksadana itu merupakan produk Bank Century.
Sementara itu Fahri Hamzah kepada wartawan mengatakan, karena masalah Bank Century sudah diambil alih pemerintah, maka pemerintah harus ikut bertanggung jawab. Sebab bank ini telah mengambil alih bank yang bobrok. Maka segala kebobrokannya harus ditanggung oleh pemerintah, tegas Fahri Hamzah.
Dikatakan, Bank Century merupakan bank tidak sehat dari awal dan dikelola tidak sehat dari awal. Juga tidak layak merger dari awal. Ternyata produk reksadana sudah dijual sejak CIC. Aneh juga ini.
BI ketika mengindentifikasi proses merjer tidak dapat mengindentifikasi adanya kegagalan operasi Bank Century sejak awal. Sehingga bank ini menjual produk reksadana, juga tidak ditegur BI sejak awal atau dihentikan.
Jadi saya katakan, tegas Fahri, tidak ada namanya kriminal perbankan dalam kasus Bank Century ini. Tapi ini korupsi. Robert Tantular, menurutnya, tidak melakukan kriminal perbankan, tapi korupsi.
Kenapa saya sebut korupsi, kata Fahri dengan lantang, karena adanya kerjasama dengan aparatur BI yang memberi kesempatan kepada operasi ilegal dari Bank Century sejak awal.
Soal aliran dana, menurutnya Pihak PPATK sudah menberi data awal dan dana ini mau kita verifikasi. Yang jelas dana yang dialihkan oleh BI dan dari LPS nyata-nyata tidak untuk menyehatkan bank tapi banyak diambil dan dikuasai oleh ‘orang-orang tertentu yang diindentifikasi sebagai pemilik uang dan nasabah besar dan dikhawatirkan mereka ini mempunyai peran terjadinya masalah ini. (M8/i)

Iklan

Posted on 13/02/2010, in Bank Century and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: