Serangan Mesjid di Thailand bukan pertama kalinya

Kasus serangan militer Thailand ke dalam masjid pernah menuai kritik tajam berbagai pihak. Berbagai kalangan berkali-kali mengecam cara militer menangani provinsi di wilayah selatan yang didominasi kaum muslimin. 
Kritik terfokus kepada respons berlebihan pemerintah terhadap kaum Muslimin yang masih muda dan minim persenjataan. Mereka dibantai aparat keamanan yang memang telah siap dan menunggu aksi serangan itu.

Dalam kasus serangan ke dalam masjid tahun 2008, dikabarkan telah merenggut 108 korban jiwa.
Menurut lembaga HAM Asis, Forum Asia, aparat yang dibekali persenjataan dan berbagai latihan sudah seharusnya mampu meredam para penyerang Rabu lalu yang kebanyakan hanya berbekal golok dan pisau.
"Lalu mengapa mereka harus menembak mati?" tanya pemimpin Forum Asia Gotham Arya.
Badan pemantau pelaksanaan HAM internasional yang berbasis di New York, Human Right Watch, bahkan menyerukan sebuah investigasi. Menurut organisasi itu, mungkin saja warga yang tidak berdosa ikut menjadi korban dalam insiden kekerasan Rabu lalu.
"Tidak jelas apakah semua korban tewas adalah pria bersenjata atau mereka yang terlibat dalam aksi serangan, terutama ketika aparat keamanan menyerbu ke dalam Masjid Kreu-Sae," kata Human Right Watch. Aksi penyerbuan ke dalam masjid mengakhiri krisis selama enam jam yang dipicu serangan serentak ke 10 kantor polisi dan pos pemeriksaan keamanan di Provinsi Yala, Pattani, dan Songkhla.
Humah Right Watch mendesak pemerintah Thailand segera membuka akses bagi semua tahanan untuk bantuan hokum, juga untuk keluarganya. Hal itu dirasa perlu untuk mengembalikan rasa percaya diri publik bahwa mereka diperlakukan dengan benar.
Bukan Pertama
Kasus kekejaman terhadap kaum Muslim ini memang bukan yang pertama.
Bulan Januari-Maret 2004, militer Thailand mengerahkan pasukan ke Narathiwat. Lebih dari 100 orang Muslim tewas oleh tentara. Ada 36 bangunan milik pemerintah yang dibakar. Najmuddin Umar, anggota Partai Thai Rak Thai (partai pendukung Thaksin) yang beragama Islam, dituding sebagai dalang kerusuhan 4 Januari.
Pada 28 April 2004,  sekitar 108 kaum Muslim tewas setelah polisi menyerang warga yang tengah berlindung dalam Masjid Krue Se. Data lain bahkan menyebut korbannya melebihi angka 108.
Pada 28 Oktober 2004, lebih dari 84 pengunjuk rasa dari kaum Muslimin meninggal dunia.  Menurut  temuan forensik Thailand menyebutkan para korban tewas akibat kesulitan bernapas, di antaranya ada yang patah tulang leher.
Kasus tewasnya puluhan kaum Muslim ini bermula ketika lebih dari 1500 kaum Muslim melakukan unjuk rasa di depan kantor polisi Tak Bai, Provinsi Narathiwat. 
Penjunjuk rasa turun jalan untuk memprotes penahanan enam rekan mereka yang dituduh menjual senjata kepada pejuang Muslim di Thailand Selatan. Mereka menuntut keenamnya dibebaskan.
Rupanya,petugas keamanan yang terdiri atas polisi dan tentara mencoba membubarkan para demonstran yang terus berteriak-teriak. Namun, mereka bukannya membubarkan diri. Malah, jumlah para demonstran bertambah banyak.
Aparat pun kehilangan kesabaran dan mulai menembaki para demonstran dengan gas air mata, senjata api, dan senjata air. Militer Thailand juga menangkapi para demonstran dan memasukkannya ke dalam enam truk yang sudah disiapkan untuk dibawa ke kamp militer Inkayuth Bariharn, Pattani.
Saat diangkut, sebanyak 1.300 tawanan itu ditumpuk-tumpukkan dengan tangan terikat ke atas, layaknya hewan ternak. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat sampai lima jam menyebabkan  sebanyak 78 Muslim tewas.  Enam lainnya meninggal pada saat bentrokan dengan aparat.
Prihatinnya Amerika
Dalam kasus tahun 2008, Amerika Serikat  berusaha menunjukkan keprihatinan. Tapi sebagaimana biasa kasus yang menimpa kaum Muslim, sikap AS tak menganggapnya sebagai kejahatan kemanusiaan atau dianggap melanggar HAM berat. Apalagi menyeret pelaku ke pengadilan internasional. Agak berbeda jika yang meninggal adalah tentara Israel meski seandainya korbannya cuma beberapa orang.
Peristiwa itu membuat PP Muhammadiyah, yang kala itu masih dipimpin Ahmad Syafii Maarif langsung mengeluarkan seruan kecaman dan menganggap Thailand melakukan pembantaian keji terhadap umat Islam. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Iklan

About Resi Andriani

Selamat datang di Blog Pribadi saya drwskincare Resi andriani, saya adalah salah satu Beauty Consultant di Drwskincare. Tujuan saya untuk buat blog ini adalah untuk berbagi informasi dan edukasi bagi teman-teman semua mengenai produk-produk resmi yang ada di drwskincare. semua pertanyaan juga bisa saya jawab di no wa saya 085271792673, jangan sungkan ya untuk mendapatkan Info mengenai drwskincare.. :)

Posted on 12/06/2009, in international, Regional, Serba-serbi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: