Metode Bom di Mega Kuningan Sama dengan Bom-bom Sebelumnya
Jaksa Agung Muda Pidana Umum Hakim Aritonga mengungkapkan bahwa berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh lima satgas antiteror yang dikirim kejaksaan untuk membantu penyelidikan oleh kepolisian tehadap kasus bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7) lalu, ditemukan kesamaan metode dengan bom-bom sebelumnya.
"Berkesimpulan metodenya sama dengan bom Kuningan, bom Bali, bom JW Marriott pertama," katanya di Kantor Kejaksaan Jakarta, Selasa (21/7).
Lima satgas antiteror tersebut, katanya, dikirim berdasarkan instruksi dari Jaksa Agung untuk membantu kepolisian dengan tugas utama melihat persamaan metode pengeboman di dua hotel bintang lima tersebut. "Sama cara membuat bomnya, cara eksekusinya dengan bunuh diri," ucapnya.
Namun, ketika ditanya tentang motif dan kelompok yang berada di belakang aksi tersebut, ia belum mengetahui sejauh itu. "Tidak sampai ke situ. Bisa saja metodenya sama, tapi kelompoknya beda," katanya.
Skenario Teroris: Ledakkan 1808 Dulu, Baru JW Lounge
Pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott pada hari Jumat (17/7) pagi diduga berencana meledakkan bom yang terdapat di Kamar 1808 terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengaktifkan bom yang dibawanya ke JW Lounge.
Hal ini disampaikan oleh pakar terorisme, Wawan Purwanto, yang juga pendiri Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional, kepada Kompas.com, Selasa (21/7) sore di Jakarta.
Sebelumnya, polisi memang menemukan bom aktif di kamar yang ditinggali pelaku bom bunuh diri itu sejak tanggal 15 Juli tersebut. "Skenario pelaku, setelah bom di lantai 18 meledak, tamu hotel langsung panik dan berhamburan menuju lobi. Jadi, pada saat lobi telah disesaki tamu, baru bom yang dibawanya juga diledakkan. Dengan demikian, jumlah korban yang jatuh menjadi banyak," ujar Wawan.
Kendati bukan pernyataan resmi Markas Besar Polri, beberapa perwira kepolisian juga sempat mengutarakan skenario senada. Ledakan bom berskala rendah tersebut akhirnya meledak dan menewaskan enam orang. Lima di antaranya tewas di tempat.
Lantas mengapa bom di Kamar 1808 tersebut tidak jadi meledak? "Saya duga pelaku tidak melakukan koordinasi dengan orang yang memegang remote di luar. Pelaku terlihat buru-buru, mungkin takut keburu dicurigai karena membawa tas besar ke dalam restoran," tambah Wawan.
Berdasarkan keterangan para saksi, pelaku bom bunuh diri tersebut sempat menggunakan telepon genggamnya sebelum meledakkan diri.
By: Kompas
Posted on 22/07/2009, in Bom Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton and tagged Bom, JW Marriot, Kuningan, Metode, Ritz Carlton, Sama. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.





Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)