Cak Imin: SBY-Boediono Figur Tepat
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) Muhaimin Iskandar Muhaimin atau yang akrab disapa Cak Imin mengatakan, Indonesia butuh figur pemimpin yang ada dalam pribadi SBY dan Boediono.
SBY adalah pribadi yang santun, toleran, sabar, bisa menjalankan pemerintahan yang bersih, dan tidak pandang bulu untuk menindak korupsi. Adapun di sisi lain, Boediono merupakan figur yang tepat untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi yang mendera Indonesia.
Hal itu disampaikan Cak Imin dalam orasinya di Pesantren Khususi Krapyak, Kamis (25/6) sore. Sekitar 1.000 kiai menghadiri Silaturahim Kiai Kampung se-DIY untuk menyatakan diri mendukung dan memilih pasangan SBY-Boediono.
"Selama ini PKB dekat dengan SBY. Dalam pemilu sebelumnya, walau PKB tidak menyatakan dukungan terhadap SBY, SBY masih mau memberi PKB jatah dua menteri. Sekarang, apa PKB hanya berdiam diri saja? Walau PKB tidak punya calon wapres dalam pilpres sekarang, itu tidak apa-apa karena misi perjuangan PKB bisa dititipkan ke mereka berdua. Kepada Segenap DPD, DPW, dan jajaran PKB, kita harus memenangkan SBY," ujar Cak Imin.
Ditegaskan pula oleh dia, PKB harus berjuang agar SBY-Boediono menang dan cukup satu putaran. Sebab, jika Pilpres nanti dilakukan dalam dua putaran, negara harus mengeluarkan anggaran Rp 10 triliun. Artinya pula, terjadi pemborosan yang tak perlu.
Tak mungkin Indonesia bisa menjalankan pemerintahan yang bersih jika pemimpin (presiden) tidak bersih. "SBY orang yang sabar, toleran. Lha dia diserang dan difitnah saja masih sabar dan toleran. Kalau saya jadi SBY, mungkin sudah uring-uringan," ujar Cak Imin.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengimbau agar jajaran dan kader PKB di daerah waspada terhadap kecurangan dalam Pilpres. Suara bisa hilang jika kita lengah, terutama di luar Jawa. "Di luar Jawa, saksi di TPS tertidur, suara bisa hilang," katanya.
By: Kompas
Posted on 25/06/2009, in Pemilu and tagged Boediono, Dewan, Ketua, Partai, SBY, Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.





Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)