Perebutan Kekuasaan di Mesir?

Mubarak sudah menjadi gaek. Umurnya sudah 80 tahun. Pernah jatuh pingsan ketika sedang pidato di podium. Marsekal angkatan udara itu, berkuasa sejak tahun 1978, ketika Anwar Sadat terbunuh,dalam peringatan angkatan bersenjata Mesir. Mubarak duduk disamping Sadat, saat pemimpin Mesir diberondong senjata oleh Letnan Khalid Islambouli, dan tewas.

Di masa lalu, militer berhasil mendepak Raja Farouk, yang menjadi alat penjajah Inggris di Mesir, dan terguling melalui sebuah revolusi, yang didukung militer. Di mana buruh, petani, dan mahasiswa, serta gerakan Ikhwanul Muslimin, bahu membahu menumbangkan boneka Inggris, tahun 1952. Revolusi itu mengubah Mesir dari kerajaan menjadi republik. Sejumlah anggota  militer yang tergabung dalam gerakan ‘perwira muda’ yang dipimpin Gamal Abdul Nasser, dan mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, berhasil menjungkirkan Farouk, yang sudah lama berkuasa, dan menjadi alat penjajah Inggris.

Gamal Abdul Nasser yang mula-mula sebagai anggota Ikhwan, menyeberang, dan menjadi penganut sosialisme, serta mencetuskan Pan Arabisme, yang kemudian di kenal dengan Nasserisme. Gerakan ini lebih mengagungkan persatuan bangsa Arab, dan mencita-citakan membentuk blok kekuatan Arab, yang sekarang menjadi sebuah kelompok Liga Arab. Namun, Nasser sendiri, terjebak dengan ideologinya, yang sosialis itu, dan akhirnya ia berkiblat ke Moskow. Nasser yang mula-mula mengedepankan pandangan nasionalisme Arab, kemudian menjadi pengikut Soviet. Maka, karena pandangannya yang sudah berubah ke ‘kiri’ (komunis) dan menjadikan Moskow sebagai kiblatnya, tak pelak terjadilah konflik dengan kekuatan Islam, khususnya dengan Ikhwan.

Ketika, Anwar Sadat menggantikan Nasser, justru Sadat yang memberikan kebanggaan bagi rakyat Mesir, melalui perang Oktober, 1976 itu, dan berhasil menjebol benteng Barlev. Keberhasilan dalam perang menghadaspi Israel itu, menjadi kebanggaan rakykat Mesir. Tapi, Anwar Sadat, tiba-tiba berkunjung ke Tel Aviv, dan berpidato di Knesset (parlemen) Israel, yang menyatakan keinginannya berdamai dengan Israel. Sejak itu, Mesir tangan dan kakinya dibelenggu oleh Zionis–Israel, dan tidak dapat berbuat apa-apa, ketika Israel semakin meneguhkan penjajahannya atas tanah-tanah Arab. Dan, Mesir hanya mendapatkan tanah Sinai, yang itu merupakan haknya Mesir.

Sadat yang sudah dibenci rakyatnya, karena berdamai dengan Israel, sementara itu, janji-janji AS, yang ingin membantu Mesir, tak kunjung tiba. Kemiskinan terus menyeruak dalam kehidupan rakyat luas. Harga-harga kebutuhan pokok membubung, serta roti menjadi mahal, maka kemarahan tak dapat di hindarinya. Seperti yang ditulis oleh kolumnis Mesir, Toha Ramadhan, ‘Kemarau Kemarahan’, tak lain adalah kebencian rakyat terhadap kegagalan Anwar Sadat, yang sudah berdamai dengan Israel, dan membiarkan negara Zionis itu mendikte bangsa Arab. Maka, saat berlangsung parade militer, di bulan Oktober tahun l978, di mana berlangsung hari ulang tahun militer Mesir, seorang perwira muda, Letnan Khalid Islambouli, yang tergabung dalam pasukan elite Mesir, yang ikut dalam parade, kemudian memberondong Anwar Sadat, sampai tewas.

Marsekal Husni Mubarak, yang duduk di samping Anwar Sadat, dan tidak dibunuh, dan hanya disuruh menyingkir oleh para perwira muda, yang memberontak itu, kemudian mengambil alih kekuasaan. Mubarak yang waktu itu menjadi wakil presiden, langsung mengambil alih kekuasaan, dan mengumumkan kematian Sadat, dan menyatakan negara dalam keadaan darurat. Dan, terus melakukan penangkapan sejumlah perwira yang terlibat dalam pembunuhan Anwar Sadat.

Militer Mesir dimata kalangan rakyat masih dianggap sebagai penyalamat. Karena, berhasil mendepak Farouk, yang menjadi boneka Inggris, dan mengalahkan Israel dalam perang tahun 1977, serta menghancurkan benteng yang paling terkenal milik Israel, yaitu Barlev. Kini, Mubarak, yang menggantikan Anwar Sadat, sudah sangat ‘gaek’, dan harus diganti. Ia berkuasa sudah lebih dari tiga dekade. Sementara itu, kondisi Mesir semakin terpuruk dan stagnan. Wisata yang datang ke Mesir semakin takut, karena situasi Timur Tengah, yang tidak stabil, akibat koflik antara Arab-Israel.

Sekarang muncul tokoh baru, yang popular, Jendral Omar Sulaiman, yang menjadi Kepala badan intelijen Mesir. Banyak yang menginginkan agar Omar menjadi pengganti Mubarak. Tokoh ini, dinilai paling layak menggantikan Husni Mubarak. Mempunyai hubungan luas, termasuk dengan Israel, dan juga arsitek yagn terus menjembatani antara faksi-faksi Palestina dengan Israel. Omar Sulaiman, memainkan peran yang penting di Timur Tengah, termasuk kerjasama dengan Suriah, dan Libanon, serta Saudi, yang menjadi kunci, kekalahan pemilu kelompok Hisbullah di Lebanon.

Tapi, populeritas Omar Sulaiman ini sangat menganggu Mubarak, yang menginginkan anaknya, Gamal, sebagai pewarisnya. Populeritas Omar ini juga bisa menjadi bumerang buat dirinya, karena sudah ada rumors, bahwa Omar akan dicopot dari jabatannya. Tentu, Mubarak menjadi sangat terkejut, melihat tumbuhnya kekuatan pendukung Sulaiman,yang terus meningkat, khususnya sebagai tokoh, yang akan menggantikan dirinya. Kampanye di berbagai media semakin nampak jelas, pengaruh Sulaiman, khususnya di dalam pemerintahan Mesir, dan kalangan militer. Berbagai survei menunjukkan populeritas Sulaiman itu, mengalahkan anak Mubarak, yaitu Gamal.

“Lebih 12 juta rakyat Mesir yang mengikuti semua berita yang dipublikasikan lewat internet, dan semuanya mendukung Sulaimen. Dan, hanya beberapa ribu yang menolak Sulaiman”, ujar seorang muda, yang menjadi pengguna internet. Meskipun, Gamal tetap menjadi tokoh utama, yang akan menggantikan Husni Mubarak.

Kecuali, kalau jaringan Jendral Omar Sulaiman ini, sudah merambah meliputi militer, dan pusat kekuasaan lainnya, termasuk di badan intelijen. Nampaknya Mubarak, tak mungkin akan dapat mewariskan kekuasaan kepada dinastinya, yaitu Gamal. Tapi, hampir seluruh kekuasaan di negara-negara Arab itu, turun-temurun, seperti yang terjadi di Suriah, ketika Presiden Hafez al-Assad, kini yang menggantikan Bashar al-Assad. Yordania, ketika Raja Husien meninggal, yang menggantikan Abdullah, dan menyusul Yaman, serta negara-negara Teluk lainnya.

Tapi, semuanya yang menjadi saksesor itu, syaratnya bukan hanya para anak keturunan raja dan presiden, tapi harus mendapatkan restu dari AS dan Israel. Seperti, kita saksikan perubahan politik di negara Timur Tengah, settiap penguasa baru, tidak boleh mempunyai sikap yang mengancam keamanan Israel. Itu sudah rumus baku dari AS. (m/berbagai submer).

Posted on 24/06/2009, in international and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.