[Top Posting] KRONOLOGI SENGKETA PULAU AMBALAT

Ambalat adalah blok laut luas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar.  Mengapa selalu terjadi sengketa di ambalat? Berbagai kalangan hanya bisa menduga-duga penyebabnya.  Tetapi kemungkinan besar penyebabnya adalah potensi minyak di blok tersebut, mengingat  bahwa di ambalat terdapat prospek minyak yang cukup besar -sebagai gambaran- satu titik tambang di Ambalat menyimpan cadangan potensial 764 juta barel minyak dan 1,4 triliun kaki kubik gas, bahkan

menurut Andang Bachtiar (direktur Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) dan mantan ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia) ; “Itu baru satu titik dari sembilan titik tambang yang ada di Ambalat “ (TEMPO Interaktif Selasa, 02 Juni 2009). Lebih jauh  Andang bahkan menegaskan bahwa di Ambalat kita bisa dapatkan dari 100juta sampai 1 miliar barrel minyak.

Pada diskusi mengenai Ambalat di facebook, seorang geolog senior yaitu Ausi Gautama membuat catatan sebagai berikut :

“Inget jaman ribut2 Ambalat dulu, menteri pertahanan bilang bahwa utk mempertahankan Ambalat dan pulau2 lain dibutuhkan dana sekitar 3 trilyun rupiah ?..”

Nah, coba kita berhitung sedikit: kalau memang disana ada 750 juta bbl minyak dan Gas 1.4 Tcf In Place, katakan kita kasih Recovery factor 30% utk Oil dan 70% utk Gas, maka reservesnya menjadi (… Baca Selengkapnyakasar2an) 250 juta bbl minyak dan 1 Tcf Gas. Katakan harga minyak 40 usd/bbl, maka total harganya menjadi : 250 juta x 40 = 10 Milyard usd x 10 ribu rph = 100 Trilyun rph.

Gas dgn RF 70% akan memberikan reserves 1 Tcf = 1000 Bcf. Katakan 1 Bcf harganya 5 juta usd, maka: 1Tcf = 5000 juta usd = 5 milyard usd x 10 ribu rph = 50 trilyun rph. Total Oil + Gas = 150 Trilyun rph ( utk mempertahankannya kita hanya butuh 3 trilyun rph….?)

Sekarang, apa memang utk mempertahankan Ambalat, kita harus dengan approach pertahanan yg membuat para pabrik senjata kaya raya ? Memang “kalau mau damai, siaplah utk perang”, “vis pacem parra bellum” dst…tapi  mungkin approach Ekspedisi Garis Depan Nusantara Wanadri adalah cara lain utk menegakkan kedaulatan negara. Alternatif lain : coba kita dirikan kampung2 Indonesia di pulau2 terluar kita…saya di tahun jaman ribut2 Ambalat itu pernah menghitung berapa biaya utk mendirikan/membiayai kampung2 kecil di pulau2 terluar kita, penghuninya kita … Baca Selengkapnyagaji/ supply, dan biayanya tidak sampai 3 trilyun tuh… Saya kirim tulisannya ke KOMPAS, tapi nggak diterima…he..he…kelihatannya kurang bermutu mungkin. Tabik !

Jadi…(itungan secara kasar) ternyata di ambalat tersimpan 150 trilyun rupiah..Pantas Malaysia terus-terusan mencoba meng-klaim blok ambalat. Berikut saya coba uraikan kronologi sengketa ambalat yang saya kutip dari Wikipedia.

KRONOLOGI  SENGKETA AMBALAT

Tahun 1967

Pertama kali dilakukan pertemuan teknis hukum laut antara Indonesia dan Malaysia kedua belah pihak akhirnya sepakat (kecuali Sipadan dan Ligitan diberlakukan sebagai keadaan status quo)

27 Oktober 1969

Dilakukan penanda tanganan perjanjian antara Indonesia dan Malaysia disebut sebagai Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia, kedua negara masing2 melakukan ratifikasi pada 7 November 1969,

Tahun 1969

Malaysia membuat peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh (Pedra blanca) tentunya hal ini membingungkan Indonesia dan Singapura dan pada akhirnya Indonesia maupun Singapura tidak mengakui peta baru Malaysia tersebut.

17 Maret 1970

Kembali ditanda tangani Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia  akan tetapi, kembali pada tahun 1979 pihak Malaysia membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta menyatakan dirinya sebagai negara kepulauan dan secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat kedalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10′ arah utara melewati pulau Sebatik. Tentu peta inipun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969 yaitu diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia dengan berkali-kali pihak Malaysia membuat sendiri peta sendiri padahal telah adanya perjanjian Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia tahun 1969 dan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia tahun 1970, masyarakat Indonesia melihatnya sebagai perbuatan secara terus menerus dari pihak Malaysia seperti ingin melakukan ekspansi terhadap wilayah Indonesia.

21 Februari 2005

  • di Takat Unarang (nama resmi Karang Unarang) Sebanyak 17 pekerja Indonesia ditangkap oleh awak kapal perang Malaysia KD Sri Malaka,
  • Angkatan laut Malaysia mengejar nelayan Indonesia keluar Ambalat.
  • Malaysia dan Indonesia memberikan hak menambang ke Shell, Unocal dan ENI. Berkaitan dengan itu pula surat kabar Kompas mengeluarkan berita bahwa Menteri Pertahanan Malaysia telah memohon maaf berkaitan perkara tersebut. Berita tersebut segera disanggah oleh Menteri Pertahanan Malaysia yang menyatakan bahwa kawasan tersebut adalah dalam kawasan yang dituntut oleh Malaysia, dengan itu Malaysia tidak mempunyai sebab untuk memohon maaf karena berada dalam perairan sendiri. Sejajar dengan itu, Malaysia menimbang untuk mengambil tindakan undang-undang terhadap surat kabar KOMPAS yang dianggap menyiarkan informasi yang tidak benar dengan sengaja.
  • Pemimpin Redaksi Kompas, Suryopratomo kemudian membuat permohonan maaf dalam sebuah berita yang dilaporkan di halaman depan harian tersebut pada 4 Mei 2005, di bawah judul Kompas dan Deputi Perdana Menteri Malaysia Sepakat Berdamai.
  • Pada koordinat: 4°6′03.59″N 118°37′43.52″E / 4.1009972°N 118.6287556°E / 4.1009972; 118.6287556 terjadi ketegangan yang melibatkan kapal perang pihak Malaysia KD Sri Johor, KD Buang dan Kota Baharu berikut dua kapal patroli sedangkan kapal perang dari pihak Indonesia melibatkan KRI Wiratno, KRI Tongkol, KRI Tedong Naga KRI K.S. Tubun, KRI Nuku dan KRI Singa [6] yang kemudian terjadi Insiden Penyerempetan Kapal RI dan Malaysia 2005, yaitu peristiwa pada tgl. 8 April 2005 Kapal Republik Indonesia Tedong Naga (Indonesia) yang menyerempet Kapal Diraja Rencong (Malaysia) sebanyak tiga kali, akan tetapi tidak pernah terjadi tembak-menembak karena adanya Surat Keputusan Panglima TNI Nomor: Skep/158/IV/2005 tanggal 21 April 2005 bahwa pada masa damai, unsur TNI AL di wilayah perbatasan RI-Malaysia harus bersikap kedepankan perdamaian dan TNI AL hanya diperbolehkan melepaskan tembakan bilamana setelah diawali adanya tembakan dari pihak Malaysia terlebih dahulu.
  • Shamsudin Bardan, Ketua Eksekutif Persekutuan Majikan-majikan Malaysia (MEF) menganjurkan agar warga Malaysia mengurangi pemakaian tenaga kerja berasal dari Indonesia
  • Pihak Indonesia mengklaim adanya 35 kali pelanggaran perbatasan oleh Malaysia.

24 Februari 2007

Pukul 10.00 WITA  kapal perang Malaysia KD Budiman dengan kecepatan 10 knot memasuki wilayah Republik Indonesia sejauh satu mil laut, pada sore harinya, pukul 15.00 WITA, kapal perang KD Sri Perlis melintas dengan kecepatan 10 knot memasuki wilayah Republik Indonesia sejauh dua mil laut yang setelah itu dibayang-bayangi KRI Welang, kedua kapal berhasil diusir keluar wilayah Republik Indonesia.

25 Februari 2007

Pukul 09.00 WITA KD Sri Perli memasuki wilayah RI sejauh 3.000 yard yang akhirnya diusir keluar oleh KRI Untung Suropati, kembali sekitar pukul 11.00, satu pesawat udara patroli maritim Malaysia jenis Beech Craft B 200 T Superking melintas memasuki wilayah RI sejauh 3.000 yard, kemudian empat kapal perang yakni KRI Ki Hadjar Dewantara, KRI Keris, KRI Untung Suropati dan KRI Welang disiagakan.

21 Maret 2009

(http://news.okezone.com/read/2009/03/21/1/203607/1/)

Pengamanan wilayah Ambalat terus diperketat. Sebanyak 130 pasukan marinir yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Ambalat IX kembali dikerahkan ke wilayah yang sampai sekarang masih menjadi sengketa antara pemerintah RI dengan Malaysia itu.

Komandan Pasmar-1 Brigadir Jendral TNI (Mar) I Wayan Mendra memastikan pengerahan pasukan tersebut tidak terkait peningkatan intensitas ketegangan di perairan Ambalat. Tapi murni bagian rotasi pasukan keamanan yang sebelumnya telah bertugas selama 6 bulan.

Kepala Dinas Penerangan Armada RI Kawasan Timur (Armatim) Letkol TNI (KH) Tony Saiful mengatakan penjagaan keamanan di wilayah perairan Ambalat memang menjadi prioritas TNI. Armatim sendiri telah menempatkan sejumlah kapal perang jenis korvet untuk melakukan patroli rutin di wilayah sengketa antara NKRI dengan pemerintah Malaysia ini.

Perhatian TNI AL dalam pengamanan kepulauan Ambalat ini berulang kali di tegaskan KSAL Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno. Dalam sebuah kesempatan wawancara dia bahkan mengisyaratkan rencana penambahan kekuatan pasukan marinir di darat maupun di perairan untuk mempertegas eksistensi NKRI di wilayah sengketa ini.

02 Juni 2009 | 08:10 WIB : Cadangan Minyak dan Gas Ambalat Sangat Besar

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kawasan perairan Ambalat menyimpan kandungan minyak dan gas bumi dalam jumlah besar. Menurut ahli geologi dari lembaga konsultan Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) Andang Bachtiar, satu titik tambang di Ambalat menyimpan cadangan potensial 764 juta barel minyak dan 1,4 triliun kaki kubik gas. “Itu baru satu titik dari sembilan titik yang ada di Ambalat,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, perairan Ambalat, yang terdiri atas tiga blok–East Ambalat (dikelola Chevron), Ambalat (ENI Lasmo), dan Bougainvillea–secara bisnis dan ekonomi sangat menjanjikan.

“Pemerintah harus segera mengembangkannya,” kata mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia itu. Kegiatan eksplorasi bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah menandatangani kontrak kerja sama.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, R. Priyono, menyatakan pihaknya merekomendasikan perpanjangan kontrak Blok East Ambalat kepada Chevron. “Wewenang perpanjangan kontrak ada di tangan pemerintah, tapi kami tetap akan merekomendasikan untuk diperpanjang karena wilayahnya sangat strategis,” ujarnya.

Kontrak kerja sama dengan Chevron akan berakhir pada 2010 dan kemungkinan besar diperpanjang hingga 2014. Ketika disinggung berapa besar cadangan minyak dan gas bumi di wilayah itu, Priyono mengatakan belum bisa ditentukan. “Prosesnya masih survei seismik,” katanya.

Adapun Blok Ambalat, yang kini dikelola oleh perusahaan minyak asal Italia, ENI Lasmo, menurut Priyono juga masih dalam tahap survei seismik. Dia memastikan semua proses eksplorasi masih berjalan, meskipun perairan Ambalat sedang bergolak. “Kegiatan kedua perusahaan itu dikawal oleh Tentara Nasional Indonesia,” ujarnya.

Malaysia mengklaim wilayah perairan Ambalat, yang mencakup 25.700 kilometer persegi atau hampir seluas seluruh Provinsi Sulawesi Selatan. Kedua wilayah kerja minyak dan gas bumi itu diberi nama Blok ND-6 dan ND-7.

Sebelumnya, kedua blok itu dinamakan Blok Y dan Z. Malaysia pada 2002 menyerahkan kedua blok itu kepada Shell (Belanda), yang bekerja sama dengan Petronas Carigali Sdn Bhd (Malaysia).

3 Juni 2009

( Yuni Herlina Sinambela – Okezone JAKARTA)

Krisis Blok Ambalat atara Pemerintah Indonesia dan Malaysia terus memanas. Sebanyak 13 kali kapal dan pesawat Angkatan Tentara Malaysia memasuki wilayah kedaulatan Indonesia di Ambalat, Kalimantan Timur, sejak Januari 2009.

Hal ini mengundang keseriusan bagi Indonesia untuk menegakkan kedaulatan di Blok Ambalat. Sebab itu, DPR bersama parlemen Belanda mengadakan pertemuan untuk membahas kerja sama pemenuhan kebutuhan kapal perang canggih untuk pertahanan keamanan dan menjaga kedaulatan NKRI.

3 Juni 2009

(http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/06/03/1/225557/)

Memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia rupanya menyulut nasionalisme sekelompok orang di Jakarta. Bahkan pada hari ini, Kedutaan Besar Malaysia akan didatangi para pengunjuk rasa. Namun belum diketahui identitas kelompok yang akan melakukan unjuk rasa pada pukul 10.00 WIB tersebut. Pihak Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Rabu (3/6/2009), saat dikonfirmasi okezone perihal ini, menolak untuk memberikan informasi.

Sementara TMC juga melansir unjuk rasa lainnya yang akan berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia pada pukul 15.00 WIB. Tidak disebutkan agenda serta identitas pengunjuk rasa

 

http://aguskuswanto.wordpress.com/2009/06/04/kronologi-sengketa-ambalat/

About these ads

Posted on 11/06/2009, in national and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 195 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: